01.24

TERUS BERTAHAN

Terbawa kebiasaan sehari hari, aku terpana dan terpesona seketika melihat dan dapat menatap matanya. Mata itu begitu bersih dan tatapannya sungguh menyejukan itu kesan yang ku dapat kala bertemu untuk yang pertama kalinya di koridor kampus. Dan hari itupun sungguh ku takkan melupakannya. Oh,…tuhan sesosok makhluk tampan ada dihadapanku saat ini tampan dan sungguh mempesona,…aduh,… apa sih yang aku rasain,… apa ini yang dibilang cinta pada pandangan pertama ???,… waduh apa semudah itu cinta dirasakan ?
Sebenarnya kesan bertemu itu tak semuanya smpurna dan indah,.. karena kalau ku ingat - ingat dengan seksama ada juga hal yang memalukan yang terselip antara sejuta kebahagiaan. Hari itu hari pertama Training asisten lab. Manajemen lanjut angkatan 19 di Universitas Mercuabdi, Universitas dimana saat ini aku berkuliah dengan mengambil jurusan Manajemen S1 sesungguhnya bukan jurusan yang kukehendaki namun itu adalah pilihan orang tuaku yang harus diterima. “ Byan” begitu teman- teman sekampusku menmanggil. Usiaku tahun ini tepat 20 tahun, anak sulung dari dua bersaudara dan kini bertempat tinggal di Bogor. Aku memiliki 3 orang sahabat sejak SMA Acha yang kini berkuliah di Universitas Negri Jakarta, Emilia yang melanjutkan ke Fakultas kesehatan di Jakarta dan Erhie yang biasa kami panggil Oneng tengah mendalami sastra di salah satu Universitas Swasta di Bogor.
Meskipun terpisah tempat serta jarak aku dan para sahabatku sesekali masih sering bertemu walaupun hanya untuk sekedar berkeliling satu mall dan lainnya, nonton atau makan dan bahkan sekedar untuk minum kopi di tempat biasa kami berkumpul di mall yang berada di Bogor. Kangen,… kangen kalian,.. begitu yang kurasa saat mengingat sahabatku. Namun sayang tak bisa setiap saat kami berkupul dan saat berkumpulpun sebisa mungkin aku tidak memperlihatkansetiap permasalahan yang tengah kuhadapi. Tak bermaksud untuk munafik, tapi aku hanya ingin menyimpan dan menghilangkan semua yang kurasa, karena hanya saat kubersama mereka aku bisa benar benar melupakan semua permasalahan yang tengah singgah.
Kembali pada hari dmana aku bertemu dengannya, “ Dy “ seorang laki laki berperawakan manis, cukup dan sangat manis mungkin untuk ukuran seorang laki laki, berkulit putih dengan lesung pipi yang menghiasi pipi kanan serta tatanan rambut yang agak panjang ia biarkan begitu saja membuatnya terlihat semakin mempesona . Hari itu hari pertama dimana aku harus menjalankan Training karena aku diterima sebagai asisten lab. Aku berlari sampai sampai tak memperhatikan sekeliling. Perhatianku terfokus untuk sampai di Lab. Manajemen lanjut. “ aduh,…. Telat,… telat pake kesiangan lagi dodolnya gw sampe sampe ketinggalan kereta haduh,…. “ begitulah gerutu dalam hatiku saat itu sampai tak sengaja aku terpeleset dan terjatuh. Tak hanya terjatuh namun tanpa kusadari aku menabrak seseorang yang dalam seketika membuatku tak dapat berkata kata.
Dalam sekejap sosok laki laki itu berdiri dan berkata “kamu gak kenapa – kenapa kan??? makanya kalau jalan hati- hati gak perlu pake lari larian gitu kan” dan masih dalam keadaan terdiam aku hanya dapat menganggukan kepala. Tak berselang lama dan setelah kutersadar sosok itu pergi akupun bangun dan segera bergegas berlari ke arah lab yang kebetulan berada di lantai 5 gedung 2 , dengan nafas terengah engah akhirnya aku sampai tapi untungnya aku tak terlalu terlambat dan masih dalam waktu toleransi.
Setelah aku sampai di lab aku segera bergegas untuk duduk di tempat terdepan karena di bangku itulah yang paling dekat dengan pendingin ruangan sehingga akan terasa sangat sejuk bila duduk di tempat itu. Dan betapa terkejutnya aku ketika tegah diabsen aku mendengar senior memanggil nama “ Mahendra adi wiguno” dan sahutan berasal dari sampinggku “ hadir” seketika aku menoleh mendengar suara yang tadi sempat ku dengar. Seketika itu juga aku kembali terpana,.. benar benar tak dapat kupercaya “ Mahendra, inikan laki laki yang tadi” karena terlalu dalam menatapnya seolah tak ingin melepaskan pandangan dari wajahnya aku terdiam sehingga tak sadar jika namaku ternyata telah disebut 2 kali “ Ruby anggra Ariani, Ruby,…apa Ruby anggra Ariyani ada ???,… hah,… setelah sekian menit akhirnya aku tersadar dan “ hadir,… hadir kak, saya Ruby Anggra Ariyani,”
Dan akupun mengetahui laki laki tadi bernama “ Mahendra Adi Wiguno” anak fakultas Tekhnik Jurusan Sistem Informasi semester 5. Aduh betapa senangnya dan hari itu terlewati tanpa terasa. Akupun bergegas pulang ketika waktu menujukan pukul 17.00. hari hari sebagai asisten lab aku jalani dengan secara diam diam terus memperhatikan “Rendra” aku hanya menyimpan kekaguman itu didalam hati karna tak ada daya untukku agar berkata dan mengutarakan semuannya. Seiring berjalannya waktu akupun terus menjalani hidup dan kuliahku.
Semuanya berjalan baik namun seperti biasa jika aku berada ditengah tengah teman sekelasku aku tiba tiba teringat kepada seseorang yang pernah mengisi hati, hari dan fikiranku setahun lalu. Tak terasa aku telah jauh dari seseorang itu , Seseorang yang tak sepatutnya untuk kucintai. Karena mencintai dan menjalin hubungan dengannya itu berarti menjadi penghianat. Itu semua dikarenakan ia adalah pacar dari teman sekelasku. Entah bagaimana aku harus menjelaskan, yang pasti hubungan itu pernah terjalin. Hubungan yang pernah membawaku kedalam kebahagiaan sesaat dan akhirnya membawa kesediahan yang berkepanjangan. Hubungan itu sekarang telah ku akhiri namun ternyata sampai detik ini aku masih belum bisa untuk benar benar menghapusnya dari fikiranku. Sakit,… dan teramat sakit. Itu yang kurasakan ketika berpisah dengannya, namun aku juga ingin berterima kasih padanya, dan berkata : “aku memang pernah jatuh karenamu namun aku tak ingin mencelamu, mungkin aku juga memang pernah sakit tapi aku juga pernah bahagia saat bersamamu dan kini aku tengah menjalani hidup baru dan menjalani semuanya tanpa kamu,… terimakasih karena kamu pernah jadi inspirasi dan motivasi untukku, dan satu lagi mungkin sebenarnya kamu tahu seberapa sakit saat aku terjatuh karenamu tapi kamu tak perlu kawatir, suatu saat nanti aku akan bisa tersenyum ketika mengingatmu bukan menitikan air mata sepeti saat dimana kamu memutuskan tuk pergi dariku dan berada di sampingnya, disamping temanku.
Ribuan bahkan jutaan kata seolah terkunci didalam bibir ini, hari ini hari dimana Ujian tengah semester dan ternyata aku datang lebih cepat dibanding teman teman sekelasku. Dipojok koridor aku duduk ditemani salah seorang teman yang ternyata dia juga datang terlalu awal, “ hah,… tak apalah daripada harus telat saat ujian lebih baik kecepetan “ itu helaku dalam hati. Terkunci,… terkunci sejenak sesaat sebelum waktunya masuk kelas, bibirku terkunci saat melihatnya,… melihatnya membuatku seolah mengingat kebersamaan yang pernah terlalaui. Seakan ingin menyapa dan berkata “ hai apa kabar, lama gak ngliat kamu,…. Jujur aku kangen samakamu” , tapi sayang aku Cuma bisa terdiam dan berusaha berkonsentrasi meneruskan pembelajaranku untuk mengerjakan soal soal uts. Seperti ingin menghindar aku pergi dan berpindah tempat untuk duduk karena jujur rasanya aku tak sanggup berada begitu dekat dengannya, Berada begitu dekat namun rasanya sangat jauh dan merasa sangat mengenalnya namun sayang saat itu justru terasa seperti orang asing. Ternyata sampai saat ini aku masih merasakan sesuatu untuknya. Entah karena aku belum mendapatkan penggantinya atau ini yang disebut rasa cinta sampai sampai semua hal yang membuatku merasa sakit bisa hilang seketika ku melihat senyum yang terlihat diwajahnya. Walaupun aku sadar senyum yang saat ini ku lihat bukan tertuju untukku. Mengapa sampai saat ini pun aku terlalu memujanya, mengapa sampai saat ini aku masih meneteskan air mata saat mengingatnya padahal belum tentu ia juga pernah mengingatku. Sampai detik dimana aku mencurahkan hal ini aku masih teramat menyayanginya. Andai saja dia mau mengerti seberapa besar rasa sayang yang aku punya untuknya, seberapa besar rasa peduliku terhadapnya, seberapa ingin aku bersamanya bukan hanya untuk bersenang senang tapi juga untuk membagi bebannya denganku hingga kuharap bebannya dapat berkurang, menjadi tempatnya bersandar saat ia merasa letih tuk tegak menghadapai dunia, menjadi penyemangatnya saat ia merasa mulai jenuh dan kehilangan arah , menjadi secercah cahaya lampion yang menerangi tiap langkahnya saat ia mulai merasa gelap akan semuanya. Andai saja andai saja, namun inilah yang telah ia putuskan, memilih orang lain untuk berada disampingnya dan itu bukan aku. Seperti halnya siang tadi saat aku tidur dan beristirahat, untuk kesekian kalinya dalam kurun waktu yang berdekatan ia hadir lagi didalam mimpiku. Entah karena beberapa lama aku kehilangan kontak dan sangat merindukannya hingga akhirnya iapun singgah di mimpiku atau itu hanya sekedar mimpi biasa bunga tidur yang tak punya makna apa apa. Apapun itu, semuanya tetap harus dijalanai apa adanya dan berusaha untuk tak mengharap apa apa..
Mungkin memang benar sampai saat ini aku masih merasa sesak saat mengingatnya dan benar benar tak dapat menahan air mata untuk menetes namun inilah yang kurasa terbaik untukku, dia dan seseorang yang kini berada disampingnya. Saat ini aku masih merasa sakit namun setidaknya itu lebih baik, karena aku bukan sakit karena mendengarnya berkata tuk meminta izin menemui seseorang, bukan sakit ketika mendengarnya ingin mengantar dan menemani seseorang dan bukan sakit mengetahui apa saja yang ia lakukan dengan orang lain. Bukan sakit karena harus membagi perhatiaannya dengan orang lain, bukan sakit karena harus membagi pelukan serta kata kata manisnya. Tetapi aku sakit karena memutuskan tuk tidak bertahan berada menemaninya dan mencoba tuk dihagai setidaknya oleh diriku sendiri agar ia juga menghargai perasaan dan diriku. Sebenarnya dulu sering kali aku mengetahui jika ia berbohong, terkadang aku letih dan kesal jika menyadari ia berbohong tapi seketika aku berfikir mungkin ia berbohong dan menutupinya dariku untuk tak membuatku marah ataupun kecewa dan aku menghargainya. Ingin rasanya berkata “tolong jangan bohong, aku tau kamu bohong kan “ hah,.. tapi biar gimanapun aku menyimpan semua rasa tahu ku jika ia berbohong untuk diriku sendiri.
Terkadang seperti tak bisa menahan perasaan dan keinginan hati ini untuk sekedar mengirimkan pesan singkat atau menelpon untuk mendengar suaranya namun aku tetap saja egois, aku tak mau bila nanti sesaat aku mengirimkan pesan singkat aku merasa tersinggung karena dia tidak membalasnya atau merasa kecewa seandainya ia menolak untuk ku ajak bertemu. Karena begitu ia menyambut pesan singkat atau telepon dariku harapan kosongku untuk memilikinya pasti akan datang lagi.
Tuhan,…. Aku teramat mencintainya kebersamaanku dengannya mungkin tak terlalu lama, tetapi aku sungguh sangat mencintainya. Tuhan apakah disaat ini ia juga tengah mengingatku ? seperti aku yang tengah menginggat dan sangat merindukannya. Aku akan bertahan, akan tetap bertahan disini untuk membentengi perasaan dan hati yang teramat mencintainya. Entah seberapa lama waktu yang kubutuhkan untuk melupakannya. Andai saja boleh memilih, aku tak ingin mengenalnya, aku tak ingin mersakan jatuh cinta padanya. Cinta ini membuatku rapuh, membuat logikaku juga tak berjalan membuatku mengabaikan segalannya dan mulai menumpuk jutaan kebohongan semenjak detik pertama ketika ia juga berkata jika ia menyukaiku,…
Tautan kata puitis & Untaian rasa sayang yang teramat itu pernah dirasa
Hingga akhirnya semua itu membuaiku kedalam lautan kebohongan
Saat itu, kebahagiaan terasa begitu nyata, pujian itu terasa begitu merdu
Hingga akhirnya ku tersadar selama ini ku hanya berada ditengah tengah jutaan kebohongan karena itu kan terasa lebih baik dibandingkan aku harus berada tegak didalam sebuah kenyataan yang berkata bahwa kau bukan miliku.
Kenangan terindah, itu lirik lagu yang pernah ia kirim untukku seolah ingin benar benar mengakhiri apa yang pernah kami alami dan menganggap semuanya kenangan, aku masih sangat ingat ekspresi wajahnya saat meniup lilin ulang tahunnya yang ke-19 entah doa apa yang ia panjatkan kala itu, tapi aku benar benar menyayanginya. Saat itu ia berkata “ kamu adalah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun, terima kasih selama ini telah menemaniku dan maafkan aku yang selama ini masih belum bisa memberikan kebahagiaan yang seutuhnya”. Bagaimana cara untuku melupakannya, dan menghapus semua rasa yang aku miliki untuknya agar aku tak merasakan siksaan ini. aku letih terus menatap kebersamaannya dengan orang lain dan itu temanku. Dan jika boleh jujur akupun selalu merasa bersalah ketika ku berada bersamanya tetapi aku juga sungguh menyayanginya. Apa perasaan seperti ini yang disebut mencintai tak berarti memiliki.
Dulupun jangankan untuk melihatnya, hanya dengan mengingatnya saja aku tak sanggup untuk menghentikan tetesan air mata, tapi sudahlah toh itu masa lalu. Sekarang adalah nyata, kenyataan yang harus ku jalani tanpa dia demi menatap dan meraih kebahagiaanku. Semoga dia takkan pernah merasakan seperti apa yang kurasakan karena sungguh itu sakit tak terbayang. Hari senin, sift 1 aku mendapat jadwal tutorial di lab, dan saat itu aku dapat bertemu dengan mahendra. Kebersamaan dan keakraban antara aku dan mahendrapun juga menjadi lebih baik. Namun, untuk yang kali ini aku tidak bermaksud untuk terburu buru mengungkapkan rasa yang ada untuknya. Aku tak ingin membiaskan rasa yang ku miliki ini, karena terkadang kita sulit membedakan rasa suka dengan kagum.
Hari semakin panjang dan larut,... namun, saat ini aku masih termenung untuk beberapa saat di lab dengan menatap kearah luar jendela untuk menatap lagit sore yang merangkak mulai menghitam dan gelap. Hari ini aku mendapat sift sampai malam hari " huft,... tak apalah toh sudah biasa " itu keluhku dalam hati saat itu. waktupun berlalu sampai saatnya untuk pulang dengan menaiki angkutan kota aku bergegas kearah stasiun Pondok cina dan naik kereta api. namun, sayangnya sesampai aku di stasiun aku mendengar berita yang kurang baik yakni kereta sedang ada gangguan signal sehingga dengan terpaksa aku harus mengeluarkan ongkos lebih untuk naik angkutan kota kembali.
Untaian rajut kata dan makna hari ini kulalui, lelah,….. sudah terbiasa rasanya, tapi aku bersyukur karena sadar atau tidak dan diakui atau tidak semua kesibukan yang ada membantuku untuk memperbaiki keadaan hari hari dan kehidupanku. Seperti hampa terkadang kurasa, Ingin tersenyum kemudian tersipu malu tapi sayang rasa itu tak ku rasakan. Cukup lama aku tak merasakan adanya getaran yang membuatku tersipu malu dan tak dapat berkata kata. Begitupun Rasa atas Mahendra, kuakui aku terpesona,… ku akui dia memang punya daya tarik yang cukup membuatku terhipnotis. Tapi, aku tidak jatuh cinta. Karena getaran itu tak ada. Tak ada getaran yang membuatku untuk terdiam dan tak dapat berkata apa apa. Itu pulalah yang akhirnya membuatku untuk menghindar dan mencoba untuk melupakan mahendra karena aku sadar saat ini aku belum siap jika harus jatuh cinta lagi.
Mungkin suatu saat nanti bisa aku rasakan lagi, tapi seolah trauma saat ini aku justru merasa takut. Takut merasakannya karena begitu ia datang ia kan sangat sulit tuk dikendalikan apalagi untuk kuhentikan jika memang tak seharusnya ia ada. “SIAPA KAMU YANG AKHIRNYA MENGHINDARKANKU DARI RASA TAKUT INI” aku masih menantikannya hingga hari ini. Untuk kamu “ seseorang “ aku mau minta maaf mungkin selama kebersamaan aku sering kali marah dan meluapkan dengan kata kata yang tak sepantasnya hingga terkesan keterlaluan. Tak bermaksud untuk membela diri, yang ingin aku katakan“ semua itu adalah ungkapan rasa kecewa, sayang teramat dan ingin dihargai olehmu orang yang berarti buat aku. Mungkin kamu juga tahu kalau aku orang yang meluap luap bila tengah marah tapi dengan sendirinya aku akan menyesal dan minta maaf atas semuanya dan buat kali ini aku minta maaf untuk setiap hal yang telah membuatmu kecewa atau tersinggung.
Terkadang masa lalu memang terasa sangat manis untuk dikenang sampai sampai ingin sekali tuk mengulanginya. Namun, jika kita mau jujur masa lalu tak selamanya membawa kebahagiaan yang terasa manis untuk hidup .Ada keseedihan, rasa kecewa atau bahkan putus asa juga mengiringi tiap langkah tapi itulah hidup, tak selamanya harus berjalan selayaknya keinginan hati. Selalu ada keseimbangan tiap sisi dan jika saat ini kita bisa mengikhlaskan kebahagiaan yang pernah dirasa serta memetik pelajaran dari semua permasalahan yang pernah dilalui sehingga membuat diri kita menjadi lebih baik dan hanya berniat untuk mengenangnya sebagai kenanagan dan bagian hidup yang pernah dilalui tanpa ada hasrat ingin mengulanginya itu berarti kita telah mulai menjadi orang yang lebih mawas dan dewasa dalam menyikapi hidup.
Seiring berjalannya waktu, percayalah semuanya akan baik baik saja. Karena menganggap waktu bisa memperbaiki dan membawa keadaan yang tengah dirasa menjadi lebih baik akan membuat kita dapat lebih kuat untuk bertahan dan tidak merasa putus asa.. Untuk itu aku juga akan terus menjalani kehidupanku saat ini dan semoga esok hari saat kuterbangun dipagi hari aku dapat lebih bersemangat dan membuatnya semakin baik. Akulah Byan gadis 20 tahun yang menganggap hidup adalah guru sejati yang bisa membuat diri kita lebih bermakna dalam menyikapi tiap hal yang singgah untuk menjadikanku gadis tegar walaupun samapi saat ini aku belum menemukan cinta sejati namun aku terus bertahan.

0 komentar: